Pojok Kebebasan Sajadah
Pojok kebebasasn sajadah
Tetesan kehampaan,kesedihan itu bernama
Le. Le yang kini hidup di antara kebimbangan membawanya ke kota besar. berdalih
dengan semangat pendidikan untuk mengangkat drajat kemaslahatan di atas
hirarkinya kebebasan. Dipagi yang cerah itu Le terbangun pukul 3 pagi lalu ia
melanjutkan tidurnya sampai Le terbangun pukul 4.35 wib. Seperti rutinitas
manusia biasa Le melakukan ibadah sholat, dilanjutkan dengan berdoa "Ya
allah ampuni aku dan segala dosa ku, dosa kedua orang tua ku dan dosa seluruh
umatmu, lancarkanlah segala urusanku dan berilah hamba peningkatan ibadah baik
dalam kualitas maupun kuantitas".
Setelah berdoa Le akhirnya
melepas sarungnya, dan berkata "hah". Mata Le tidak bisa berbohong
kalau ia sedang melihat ke sebuah hp, Le mengambilnya dan memainkannya untuk
waktu yang cukup lama. sampai ia tersadar bahwa sekarang pukul 6.30 dan Le
hanya mengerakan kedua bola matanya dan juga persepuluh jarinya, Le termenung
beberapa detik dan melihat sajadahnya, ya sajadah itu masih belum Le singkirkan
karena ia terburu buru melihat perangkat maya tersebut. Sampai ketika ia
berfikir "ya sendirian lagi, bukan kehampaan tapi ketidak tau an akan mau
melakukan apa", Le sadar kesusahan hatinya, hilangnya arah pada tujuannya,
ke insicurean nya pada teman-temannya akan pencapaian mereka, ketidak mampuanya
ia berharapa pada suatu hal. Dan hati kecilnya berkata "apakah aku bisa
sukses ya?".
Ada kedua orang yang ingin Le
banggakan dan ia sepertinya hanya ingin kedua orang tersebut mengatakan
"Le kami bangga padamu", sesederhana kata yang yang difikirkan dan
sulit terucapakan. Mungkin itu kata yang akan menjadi tujuan Le sekarang. Tapi
sebagai manusia yang tidak dibekali dengan kecerdasan yang mumpuni ia hanya
bisa terdiam disamping sajadah, terkadang Le melihat langit langit tempat ia
tinggal. "putih sekali atap rumah ini, apakah ia berarti suci?"
begitu gumannya terhadap dirinya sendiri, sedari kecil Le adalah anak yang suka
berbicara sendiri dengan dirinya sendiri, senang berdiskusi dan suka melihat
dirinya sendiri, gangguan psikis ini disebut skizofrenia suatu
halusinasi Ketika si penderitanya mendengar suaranya sendiri dan menjawab nya
sendiri. le tidak pernah terganggu dengan hal itu karena hal itulah yang
membuatnya tetep memiliki teman ketika ia sendiri, tapi kali ini berbeda ia
seperti tidak bisa mendengar dirinya sendiri lagi, ia merasa seperti jauh
ketika ia coba mendengar dirinya. Lalu Le mencoba berfikir apakah dia sedang
meninggalkan dirinya sendiri, ya seperti terkurung pada sangkar yang tidak
membiarkanya keluar bebas. sekarang Le benar benar membutuhkan seseorang yang
bisa mendengarkannya melihatnya sebagai sosok lain, itulah kenapa ia bisa
mencapai impianya. Tapi orang orang itu sedang jauh dengan Le, mereka mengejar
impiannya sendiri yang begitu keren menurut Le, akan tetapi ia hanya bisa
merasa senang diatas luka hatinya, Le selalu mengatakan bahwa ia ingin bisa
hebat dan sukses tapi Le lupa caranya untuk kembali ke podium itu, lagi dan
lagi. bukan karena tidak punya kesempatan tapi ia hilang, tidak ada kemauan di
dalam dirinya ketika le mendapatkan kesempatan, kehilangan dirinya etalah
kesempatan itu pergi pada Le.
Kesulitan,kegundahan dan kebingungan
selalu menyelimuti Le, setiap saat. Bahkan bila ia sudah menemukan dirinya
sendiri dan berbicara pada dirinya apakah le akan kembali bisa semangat dalam
menggapai apa yang ia inginkan "aku bangga padamu"
Bersambung...

Post a Comment